SENYUM TERAKHIR AYAH
SENYUM TERAKHIR AYAH
Cover by: @d.vi
“Dulu, aku masih kecil. Aku belum mengetahui arti kematian, artinya ditinggalkan, arti tangisan, arti senyum, belum tahu dan belum tahu. Ketika aku mulai tahu, aku berjanji akan menjadi anak baik”
Kenangan dan Pesan Terakhir Ayah
Namaku Andrea Hirata. Aku adalah gadis yang dituntut oleh dunia untuk tetap tersenyum walau hatiku penuh dengan luka dan duka.
Di sini! Di dunia ini, aku hidup tanpa adanya sosok orang tua. Ditinggal saat umurmu masih balita oleh orang tuamu, bagaimana rasanya?
Aku masih mempunyai tante bernama Maryam dan suaminya yang mau mengurusku setelah ayah meninggal. Sejak umurku beranjak 18 tahun, aku mulai bisa mendapatkan pekerjaan dan mencukupi kebutuhanku sendiri sampai aku bisa menyewa kos. Aku bisa hidup mandiri tanpa merepotkan lagi keluarga Bunda Maryam.
“Dulu, aku masih kecil belum tahu arti kematian, arti ditinggalkan, arti tangisan, arti senyum, belum tahu, dan belum tahu. Ketika aku mulai tahu, aku berjanji akan menjadi anak baik,” gumamku sambil memandang sendu foto kedua orang tuaku.
“Andai dulu aku dapat mengerti semuanya, apa aku akan dengan senang hati menerima kenyataan?”
“Bisakah aku kuat, Ayah?,”
FLASHBACK ON
TIK… TOK… TIK… TOK…
Suara jam dinding menggema di ruangan dengan suasana pagi yang sangat cerah kala itu. Terlihat di depan televisi tua ada seorang anak gadis kecil dan seorang pria paruh baya. Mereka sedang menonton acara televisi khusus anak-anak.
Sang anak begitu antusias menonton acara itu, sedangkan sang ayah hanya diam dan tersenyum memandang putri kecilnya yang begitu bahagia hanya dengan menonton film kartun kesukaannya.
“Andrea, apakah Kamu sayang Ayah?” gadis kecil bernama Andrea itu menoleh. Ia mengangguk lucu menjawab pertanyaan ayahnya.
“Andrea, sayang sekali kepada Ayah!”
Entah apa yang dipikirkan laki-laki paruh baya itu setelah mendengar jawaban dari putri kecilnya. Dirinya menunduk dalam-dalam guna menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba mengalir.
“Jika Ayah pergi sama seperti Bunda, Andrea jangan pernah menangis ya! Andrea harus menjadi anak yang kuat!” Andrea yang tidak mengerti maksud ucapan ayahnya, ia hanya mengangguk saja.
“Ayah, apa Bunda tidak akan pernah kembali?” pertanyaan Andrea kecil sangat menohok ayahnya. Kali ini tangis laki-laki paruh baya itu pecah.
“Nak, Bunda tidak akan kembali lagi, dia sudah berada di sana, di tempat yang jauh sekali. Bunda tengah menyiapkan sesuatu yang sangat indah buat kita, Bunda sedang menunggu..,” laki-laki paruh baya itu memeluk putri kecilnya. Pelukannya semakin erat seperti ia akan pergi jauh. Memang benar laki-laki paruh baya itu akan pergi jauh meninggalkan Andrea kecil untuk selama-lamanya.
“Ayah, mengapa Ayah menangis? Ayah sakit ya?” Andrea kecil sangat takut karena dari tadi ayahnya hanya menangis.
“Ayah tidak apa-apa, Nak. Ayah hanya sedang ingin menangis,” Andrea kecil hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Andrea, kalau Ayah pergi nanti, Kamu baik-baik di sini ya bersama Bunda Maryam,” Andrea kecil hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya.
“Baik Ayah, Andrea akan menjadi anak baik seperti kata ayah,” seru gadis kecil itu. Laki-laki paruh baya itu pun tersenyum mendengar jawaban anaknya.
“Andrea, Kamu akan selalu menjadi anak baik ayah. Ayah sangat menyayangimu, Nak, mungkin ini senyum terakhir..,”
Pergi untuk Selamanya
Esok harinya…
Matahari telah menyingsing. Terlihat gadis kecil dan laki-laki paruh baya tertidur di depan televisi lama beralaskan permadani bewarna merah hati yang sangat indah.
Cahaya matahari menembus masuk ke dalam setiap ruangan di rumah itu. Terlihat sebuah pergerakan kecil yang dilakukan oleh sang laki-laki paruh baya itu. Tampak laki-laki paruh baya itu sudah bangun dari tidurnya, dan dengan pelan ia bangun untuk memindahkan putri kecilnya yang berada dalam rengkuhannya ke sofa. Laki-laki paruh baya itu langsung beranjak menuju ke tempat telepon rumah berada. Ia menekan beberapa digit nomor. Laki-laki paruh baya itu menelepon seseorang.
“Assalamualaikum, Maryam,”
“Waalaikumsalam, Bang Fadli. Ada apa Bang?”
“Abang meminta tolong kepadamu untuk pergi ke rumah Abang sekarang ya!”
“Memangnya ada apa, Bang?”
“Abang sudah tidak kuat, Mar,”
“Astagfirullah.. Maryam ke sana sekarang ya Bang!”
“Cepat ya Mar! Abang benar-benar sudah tidak kuat lagi. Abang meminta tolong kepadamu untuk menelepon dokter Zidan agar ia pergi ke sini” ujar laki-laki paruh baya itu seraya memegangi dadanya yang sesak.
“I-ya, Bang, Maryam tutup dulu teleponnya ya. Maryam usahakan akan segera sampai ke sana lima belas menit lagi bersama dokter Zidan. Wassalamualaikum,”
Setelah sambungan telepon diputus, laki-laki paruh baya itu segera berjalan mendekati putri kecilnya seraya memegangi dadanya. Ia menatap sendu ke arah putri kecilnya yang dirawatnya sejak berumur sehari. Istrinya atau ibu dari Andrea telah meninggal sesaat setelah melahirkan putri kecilnya, Andrea.
Pria paruh baya itu mengelus rambut putri kecilnya itu dengan sayang. Ia mengecup pucuk kepalanya berkali-kali seperti tak akan ada hari esok.
“Ayah sangat menyayangi Andrea. Jika Ayah tidak ada, Kamu jangan menangis, selalu berbahagialah. Kamu jangan lupa salat dan mengaji. Kamu juga jangan melanggar aturan yang diberikan oleh Bunda Maryam. Jadilah anak baik untuk Ayah. Ini senyum terakhir Ayah.. Andrea,”
Kemudian tubuh laki-laki paruh baya itu mendadak lemas. Pandangan matanya mengabur. Sakit di dadanya bertambah parah dan terdengar lirihan yang sangat kecil suaranya.
“Ayah, sayang Andrea..,” akhirnya—
Matanya terpejam di samping putri kecilnya yang tertidur. Tangan laki-laki paruh baya itu masih di kepala putri kecilnya, Andrea.
TEGAR
TOK..TOK..TOK..
“Assalamualaikum Bang Fadli. Ini Maryam bersama dokter Zidan. Tolong buka pintunya, Bang!” seru seorang perempuan yang menyebut dirinya Maryam.
“Bang Fadli, buka pintunya Bang!” sambung laki-laki yang berada di samping Maryam, dokter Zidan.
Maryam sangat was-was sebab ini sudah lima belas menit lamanya, tetapi Bang Fadli sebagai penghuni rumah tak membukakan pintunya.
“Aduh dokter, bagaimana ini? Maryam takut Bang Fadli kenapa-napa di dalam rumah,” ujar Maryam yang mulai cemas. Dokter Zidan pun tidak tahu yang harus dilakukannya karena tidak mungkin jika mereka harus mendobrak pintu rumah itu. Mereka takut tetangga di sekitar berpikir macam-macam.
“Maryam tenang ya, berpikir positif saja,”
“Bagaimana Saya berpikir positif, Dokter? Ini sudah setengah jam kita berada di luar, tetapi tidak ada tanda-tanda Bang Fadli mau membukakan pintu. Maryam seperti ini karena Maryam sangat khawatir sebab Bang Fadli menelepon Maryam saat ia berada dalam keadaan sakit. Bang Fadli mengatakan bahwa ia tidak kuat lagi,” ujar Maryam dengan suara yang meninggi karena ia terlalu cemas.
‘Tidak ada pilihan lagi,’ batin dokter Zidan.
BRAK
Dokter Zidan mendobrak pintu. Maryam tersentak kaget, tetapi ia cepat-cepat masuk ke dalam rumah bersama dokter Zidan. Setelah mereka masuk, dilihatnya seorang laki-laki paruh baya yang tergeletak di atas permadani warna merah hati. Hal paling mengharukan adalah tangan besar milik Bang Fadli memegangi kepala putri kecilnya yang sedang tertidur.
Maryam yang melihat keadaan Bang Fadli, ia langsung berjalan tergesa-gesa ke arah Bang Fadli diikuti oleh dokter Zidan. Maryam menggoncangkan-goncangkan tubuh Bang Fadli, tetapi Bang Fadli tidak merespon. Maryam akhirnya menangis ketika ia melihat ke arah dokter Zidan. Ia seperti meminta penjelasan, tetapi dokter Zidan hanya mengucapkan—
“Innalillahi wa innalillahirajiun,”
Maryam menangis sesenggukan. Ia melihat ke arah Andrea, putri kecil Bang Fadli. Maryam menyentuh tubuh Andrea dan Andrea akhirnya terbangun, dengan wajah polosnya ia bertanya.
“Bunda Maryam, mengapa Bunda menangis? Tadi sewaktu Andrea tidur, Andrea mendengar suara yang sangat keras, tetapi Andrea tidak bisa bangun. Andrea sangat mengantuk,” Maryam hanya tersenyum tipis ke arah Andrea.
“Bunda tidak apa-apa, Nak,” Maryam menyeka air matanya. Andrea yang melihat hal itu hanya tersenyum.
“Bunda jangan menangis! Bunda menangis, Andrea ingin menangis juga. Bunda, ini siapa?” tanya Andrea ketika ia melihat ke arah dokter Zidan.
“Andrea, kenalkan, ini dokter Zidan. Teman ayah Andrea,” ujar Maryam menjelaskan.
Andrea hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan matanya teralih kepada tubuh kaku di sampingnya.
“Bunda, ada apa dengan Ayah? Mengapa Ayah tidak bergerak?” pertanyaan Andrea hanya membuat Maryam bungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Andrea, apa Kamu mau berjanji kepada Om?” pertanyaan itu keluar dari mulut dokter Zidan. Andrea hanya tersenyum dan ia kemudian berkata.
“Apa seperti janji yang Ayah buat Bersama dengan Andrea? Andrea harus menjadi anak baik?” jawab Andrea sambil terus tersenyum. Awalnya dokter Zidan dan Maryam terkejut, tetapi kemudian dokter Zidan melanjutkan kalimatnya.
“Iya seperti itu. Apa Andrea mau berjanji?” tanya dokter Zidan lagi dan Andrea hanya mengangguk dengan antusias.
“Ayah, Andrea sekarang ini--” sebelum melanjutkan kalimatnya, dokter Zidan mengambil nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan, sedangkan Maryam berusaha membendung air matanya agar tidak turun. Dokter Zidan melanjutkan kalimatnya.
“Ayah Andrea sudah meninggal, sayang,” dokter Zidan dan Maryam hanya menunggu respon anak itu.
“Apakah Ayah sudah pergi ke tempat Bunda? Ayah meninggalkan Andrea bersama Bunda Maryam?” Maryam hanya mengangguk. Dokter Zidan akhirnya menangis, tetapi wajahnya ia palingkan agar mereka tidak melihat jika ia tengah menangis.
“Apakah Andrea sedih? Andrea maukan tinggal bersama Bunda?”
“Andrea tidak bersedih. Andrea berjanji kepada ayah untuk menjadi anak baik. Berarti Andrea tidak boleh menangis. Andrea ingin tinggal bersama Bunda Maryam karena Ayah sudah meninggalkan Andrea untuk pergi ke tempat Bunda berada,” Andrea mengucapkan kata-kata tersebut seraya tersenyum.
Maryam hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Andrea, sedangkan dokter Zidan yang juga mendengar perkataan Andrea, ia pun semakin terisak pelan.
“Andrea masih kecil. Ia belum mengerti artinya kematian atau meninggal, jadi Andrea hanya berkata senang. Tetapi, Bunda tahu bahwa Andrea merupakan anak yang tegar”batin Maryam.
“Aku hanya bisa menangis mendengarkan penuturan kata-kata dari mulut kecilnya, ia tidak mengerti mengenai kematian, tetapi dia adalah anak yang baik dan tegar,”batin dr.Zidan.
PERISTIRAHATAN TERAKHIR AYAH
Payung hitam telah menghiasi jalan. Orang-orang mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Maryam, dokter Zidan, dan juga Andrea memakai baju hitam sebagai tanda berkabung atas kematian seseorang, ayah Andrea.
Maryam menangis tersedu-sedu sembari memeluk Andrea. Ia mengatakan kepada Andrea untuk kuat, padahal Andrea hanya tersenyum tak memiliki arti, sedangkan dokter Zidan hanya menangis dalam diam memikirkan nasib Andrea.
Proses pemakaman telah selesai. Orang-orang telah meninggalkan makam, menyisakan Maryam, dokter Zidan, dan Andrea. Andrea melihat gundukan tanah yang baru tersebut dan ia tersenyum.
Andrea duduk di samping nisan sambil mengatakan—
“Senyum terakhir Andrea saat melihat tempat ayah tidur sekarang. Andrea sayang Ayah walaupun Ayah tidak ada lagi bersama Andrea. Andrea berjanji untuk menjadi anak baik,” Andrea bangkit dari duduknya. Ia menggapai tangan Bunda Maryam. Ia melihat ke arah Bunda Maryam dan ia mengatakan—
“Andrea kuat, Bun. Bunda jangan menangis lagi..,”
Maryam tersenyum ke arah Andrea dan dokter Zidan pun tersenyum. Mereka sama-sama pergi meninggalkan gundukan tanah tersebut untuk menjemput takdir baru yang akan mereka hadapi.
FLASHBACK OFF
KERINDUAN
Deer bulan
Ayah..
Ketika malam, aku merindukanmu..
Kulihat keluar jendela untuk melihat bulan, aku seperti melihatmu Ayah..
Ayah..
Ketika teman-temanku dengan riangnya bergandengan dengan orang tuanya..
Apalah aku yang hanya bisa menggenggam fotomu dan ibu..
Ayah..
Ketika aku ditertawakan karena saat rapat orang tuaku tidak hadir dan hanya ada Bunda Maryam.
Aku mencoba tidak menangis saat itu..
Ayah..
Kini dalam kesunyian malam ini, aku teringat dirimu ketika mendongeng untukku..
Ayah..
Saat ibu pergi meninggalkan aku, Kau berharap aku kuat karena dari aku lahir tidak pernah kurasa sentuhan ibu..
Ayah..
Kini aku ingin menangis..
Bolehkah aku menangis?
Meratapi fotomu dan aku menangis..
Ayah, izinkan aku menangis..
Izikan aku untuk menjadi anak yang lemah..
Izinkan aku menjadi anak yang suka merengek..
Ayah, izinkan aku..
Aku terlalu rapuh, Ayah..
Ayah..
Aku menyayangimu dan ibu..
Ibu terima kasih karena Ibu telah melahirkan Andrea ke dunia ini dengan suka cita dan terima kasih Ayah telah menerima Andrea dengan kebahagiaan. Terima kasih, tanpa kalian aku tak ada di dunia ini..
Terima kasih..
Rinduku, padamu..
Senyum terakhir ayah untuk ku..
END
NOTE
“Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati,”
“Ah, kematian memang misteri. Bisa datang di mana saja, kapan saja. Jika bisa memaknai setiap nafas hidup, kematian hanyalah sebuah lonceng untuk waktu yang telah tiada,”
“Semua yang hidup akan merasakan kematian. Kita tidak akan selamanya ada di dunia ini. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang sangat kita cintai, kita hanya perlu ikhlas, tetap tegar, dan sabar. Percayalah Tuhan lebih menyayanginya maka dia lebih cepat dijemput,”
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tongkat Kepemimpinan Berpindah, Kepala MTsN Kota Sabang Resmi Lantik Pengurus OSIM 2026/2027
Kepala MTsN Kota Sabang, Muhammad Nasir S Pd, resmi melantik pengurus OSIM periode 2026/2027. Pengambilan sumpah jabatan di pimpin langsung kepala madrasah dan diikuti seluruh pengurus
Kasi Penmad Kemenag Sabang Tinjau Langsung Pelaksanaan TKA 2026 di MTsN Sabang
Kasi Penmad Kemenag Kota Sabang Hj Nuranifah S Ag M Pd dan Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Sabang Muhammad Nasir S Pd meninjau pelaksanaan TKA (Tes Kemampuan Akademik) guna memastikan
MEMBACA SENYAP MTsN SABANG
Membaca senyap MTsN Sabang edisi Selasa, 8 November 2022. Membaca senyap merupakan salah satu program Literasi MTsN Sabang dari sekian banyak program literasi lainnya. Membaca Senyap d
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag Tangga mer
Apel
Apel Siang ini terasa terik sekali matahari membakar wajah ku yang sudah semakin legam terbak
Duka
Duka hadirnya tak terduga sering tak didamba menghadapi Duka dengan sabar adalah Pahala bagi mereka yang percaya Kadang duka menghampiri saat hari begitu indah hingga air
Ayah
Ayah Aku tak pernah ingat hangat belaian tangan kekar mu namun aku percara Engkau selalu membelaiku Karena aku dapat merasakannya Hari ini usia ku bertambah “bukan bertamba
Yang Terabaikan
Yang Terabaikan Mengapa engkau melakukan apakah hanya karena mengejar penghargaan segera hentikan jika itu yang menjadi alasan Seberapa penting alasan itu jangan pernah en
Tulang Rusuk
Tulang Rusuk wahai engkau sang tulang rusuk berakhir sudah kini di hari Sabtu 29 Agustus 2020 Engkau tak pantas lagi menjadi tulang rusuk Menangis darah pun engkau Mulai hari ini
