• MTSN 1 SABANG
  • MTsN Hebat, Bermatabat, Investasi Dunia Akhirat

KENNETH ALDEBARAN

KENNETH ALDEBARAN

COVER BY @d.vi

 

PROLOG

 

Namaku Kenneth Aldebaran. Aku satu dari orang-orang yang kecewa kepada kehidupan. Bagiku semua orang tersenyum hanya untuk menutupi rasa sakit yang mereka rasakan. Aku selalu berhasil menutupi apa pun tentang diriku. Tapi, jika kalian ingin melihat dari dekat, mungkin kalian bisa melihat bagaimana hancur dan rapuhnya aku.

            Pada dasarnya menurutku apa yang tampak di mata belum tentu itulah fakta. Kehidupan membuat seseorang belajar memainkan perannya masing-masing. Kehidupan keras membuatku belajar untuk berakting layaknya aktor hebat.

//J//

 

KENANGAN

 

Hari ini langit yang bewarna biru cerah berubah menjadi kelabu pekat. Gumpalan awan hitam itu terbang terbawa hembusan angin yang kini sedang betah menutupi sinar matahari di tempatku berdiri.

Tik, serintik air menerpa wajahku.

Tik, serintik lagi menerpa lenganku, dan begitu seterusnya hingga satu titik air itu menjadi semakin banyak. Hawa dingin berhembus menemani jutaan air yang jatuh dari langit.

Senyumku terbit. Aku suka hujan dengan sejuta kenangan yang tersimpan di dalamnya. ‘Hujan’--satu kata magis bagi beberapa orang termasuk diriku. Kata magis yang selalu berikatan dengan kata kenangan dan sendu. Tapi tidak semua hujan itu sedih. Banyak orang berkata, “Hati-hati jika hujan karena akan banyak kenangan yang terkumpul di jalanan.” Kupikir dia salah. Mungkin maksudnya adalah genangan, tapi ternyata tidak. Dia benar, dalam genangan juga banyak kenangan.

Kenanganku dengan hujan selalu baik, seperti saat aku bermain di bawah rintiknya dengan ayah dan ibu. Atau yang lebih sederhana adalah saat hujan turun dengan lebat dan aku malas pergi ke sekolah. Hujan menyelamatkanku.

Bukan hanya tentang kenangan yang kusuka saat hujan. Aku juga suka irama dan aroma hujan. Irama yang membentuk melodi nan indah saat jutaan air jatuh ke bumi dan menghidupi makhluk lain dan aroma air hujan yang bertemu tanah, seolah mereka rindu. Bayangkan, setelah lama berpisah mereka akhirnya berhasil jatuh dan bertemu dengan tanah meski rasanya mungkin sakit.

Ah, otakku sepertinya sedang bermasalah karena berpikir panjang lebar tentang hujan. Kepalaku kembali mendongak untuk melihat betapa pekatnya langit siang ini.

“Gak pulang, Ken?”

Aku menoleh ke belakang. Di sana kulihat perempuan berambut kincir kuda dan memakai pakaian sekolah sama dengan milikku. Aku ingat dia perempuan yang akhir-akhir ini sering menggangguku, walau hanya mengajakku bicara. Aku tak mengenali perempuan ini! Yang kutahu perempuan ini murid baru di kelasku. Sialnya lagi dia duduk di kursi kosong di sampingku. Memang, kursi kosong di kelasku hanya ada di sampingku.

“Gak pulang, Ken?”

Aku hanya diam melihatnya.

“Ngapain coba kamu hujan-hujanan. Ntar kalau kamu sakit gimana?” Aku bisa lihat dari raut wajahnya kalau dia khawatir kepadaku. Aku masih diam melihatnya.

“Sini!”

SREK!

Aku kaget saat dengan lancangnya dia memegang lenganku dan menarikku.

“Kalo kamu hujan-hujanan terus sakit gimana?! Orang tua kamu pasti khawatir kalo kamu hujan-hujanan terus sakit. Kamu gak kasian sama orang tua kamu?”

Orang tua?!

“Bukan urusan kamu.” Aku menepis pelan tangannya yang masih memegang lenganku, lalu tanpa peduli aku langsung meninggalkan halte sekolah. Ya kami memang masih di perkarangan sekolah. Hujan pun sudah reda. Aku pergi ke tempat kerjaku.

Well, aku mengisi waktu luangku dengan bekerja, daripada nongkrong tidak jelas. Lagi pula aku tak punya teman, jadi lebih baik mengisi waktu luang dengan bekerja. Menurutku itu lebih bermanfaat dan gajinya aku bagi dua, setengah untuk kusumbangkan ke panti dan setengahnya lagi untuk kutabung.

“Ken, melamun mulu. Tu ada pelanggan, cek dulu sana!” tegur Bang Bagas membuyarkan lamunanku.

“Iya, Bang.” Aku bergegas menjalankan perintah Bang Bagas, pemilik dan bos tempat aku bekerja.

Ada yang penasaran sama pekerjaanku? Aku bekerja part time sebagai montir di bengkel kecil yang telah menerimaku selama setahun ini. Saat hari-hari biasa aku bekerja dari pukul 13.30 sampai 17.30, dan pada Sabtu-Minggu dari 09.30 sampai 16.30.

Bang Bagas yang memang punya hati yang baik mau menerimaku yang masih sekolah untuk bekerja di tempatnya. Bang Bagas memang sudah kuanggap abangku sendiri, begitu pun sebaliknya.

 

17:30  p.m

“Bang! Ken pulang dulu, ya!” pamitku ke Bang Bagas.

“Iya, hati-hati di jalan,” pesan Bang Bagas kepadaku.

“Iya! Abang-Abang semuanya, Ken pamit pulang, ya!” Tak lupa aku juga berpamitan kepada semua karyawan bengkel yang semuanya lebih tua dariku.

“Iya, hati-hati, Ken.”

Aku berlalu dari sana. Hari sudah hampir gelap. Aku pergi ke halte untuk menunggu bis. Mengapa tak memakai kendaraan sendiri? Entahlah, aku hanya lebih suka menaiki angkutan umun seperti bis.

Sampai di halte aku duduk menunggu bis. Hari ini lebih melelahkan dari hari biasanya mengingat bengkel cukup ramai pelanggan tadi.

Saat bus telah datang aku langsung naik dan duduk di tempat biasa di dekat jendela. Aku terbiasa menikmati pemandangan kota dari bus. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi letih.

***

 

KECEWA

 

CKLEK

BLAM

“Baru pulang kamu?” tanya suara itu. Aku menoleh dan menemukan Papa bersama seorang wanita di meja makan.

“Iya.”

“Makan dulu sini sama-sama!” ajak Papa. Aku bisa melihat meja makan penuh dengan makanan. Aku menerka-nerka situasi apa yang terjadi sekarang?

“Iya, Pa.” Aku menurut dan beranjak ke meja makan. Aku lumayan lapar, dari siang tadi belum makan. Sebenarnya agak aneh melihat Papa ada di rumah seawal ini.

SREK

Aku menarik kursi dan mendudukinya. Kulirik wanita yang duduk di hadapanku. Apa teman Papa? Mungkin, batinku.

Aku mengedikkan bahu tak acuh. Kuambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu memakannya. Suasana agak sedikit canggung karena sejak tadi tak ada yang berniat angkat suara. Aku tak peduli dan tetap fokus mengunyah makananku.

“Kenneth.” Aku mendongak melihat Papa memanggilku.

“Kenalkan ini Tante Manda.” Papa mengenalkan temannya kepadaku. Bisa kulihat wanita di depanku tersenyum manis. Aku hanya membalas dengan senyum tipis saja.

“Hai, Kenneth, senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu,” ucapnya masih dengan tersenyum manis.

“Hai juga, Tante, senang juga bisa berkenalan denganmu,” balasku tersenyum kecil.

“Hm ... Ken.” Aku mengalihkan pandanganku ke Papa. Bisa kulihat raut wajah Papa sedikit gugup.

“Ada apa, Pa?” Entah mengapa perasaanku sedikit tak enak saat melihat gelagat Papa.

“Tante Manda akan segera menjadi ibu sambung kamu.”

DEG!

DUK

Aku mematung mendengarnya. Sendok yang kupegang terjatuh. Tak ada rasa senang setelah aku mendengarnya. Hanya ada kecewa, sakit, marah bercampur satu.

“Ken.”

“Kenneth.” Aku tersadar dan mengalihkan pandanganku sepenuhnya ke Papa menuntut kejelasan.

“Hufh, iya Papa akan menikah dengan Tante Manda minggu depan—[saat aku akan protes papa langsung memotong]--tak ada penolakan! Itu sudah keputusan Papa,” tegas Papa tak mau dibantah.

Aku memandang Papa dan perempuan di depanku bergantian.

            “Terserah Papa,” ujarku, lalu beranjak dari kursi yang kududuki.

SREK

“Aku selesai,” ucapku dan berlalu dari sana. Aku pergi menaiki tangga ke kamarku.

BLAM

Aku melangkahkan ke balkon kamar dan menatap langit yang dipenuhi bintang berkilauan. Tanpa sadar air mataku turun. Malam ini Papa pulang membawa kejutan. Kejutan yang sama sekali tidak kuinginkan. Kejutan yang membuatku kecewa.

“Ma! Malam ini Papa pulang. Setelah sebulan pergi dari rumah, malam ini Papa pulang. Tapi Papa gak pulang sendiri, Ma! Dia pulang dengan kejutan yang gak pernah pengen kudenger.”

“Ma! Aku kangen Mama. Aku kangen masakan Mama. Aku kangen omelan Mama. Aku kangen pelukan Mama. Aku kangen semua tantang Mama.”

“Ma! Kenneth mau ikut Mama. Kenneth gak kuat kalok harus ngejalanin ini semua tanpa Mama.” Aku benar-benar mengeluarkan semua isi hatiku yang selama ini kupendam sendiri. Aku berbicara panjang lebar dengan memandangi bintang-bintang di langit, berharap bintang-bintang itu membawa pesanku ke tempat Mama berada.

***

 

BUKU DIARY MAMA

 

01:45

Huoaaaah … Aku mengerjapkan mataku. Melirik jam di nakas.

Tenggorokanku terasa kering. Aku bangun dari ranjang dan pergi ke dapur, sedikit susah karena pandanganku belum jelas.

Tap! Tap! Tap!

Saat melewati kamar orang tuaku, aku melirik pintu kamar yang tak ditutup. Aku melangkah menuju pintu kamar dan mengintip ke dalam. Kosong! Tak ada Papa di dalam. Apa Papa pergi lagi?! batinku.

Saat akan menutup pintu kamar mataku tak sengaja terpaku pada pajangan foto Mama dan Papa di atas nakas samping tempat tidur. Aku membawa langkahku ke dalam dan mendudukkan tubuhku di ranjang. Tanganku terulur ke foto dan mengambilnya. Kutatap lama-lama foto Mama dan Papa, kuusap dan tanpa sadar satu tetes air turun dari sudut mataku.

“Ma! Hks!” Aku membawa foto itu ke dalam dekapanku sambil terisak.

Kutatap lagi foto yang kupegang. Saat sudah puas menatap wajah wanita yang ada di foto itu, aku menaruh kembali foto tersebut ke tempat awalnya. Aku berjalan mengitari kamar, dan sesaat mataku terpaku pada sebuah buku yang terletak di atas meja. Mirip seperti buku diary, pikirku. Aku melangkahkan kaki menuju meja itu dan menduduki kursinya.

Kuraih buku bersampul biru tua itu dan membukanya. Yang pertama kulihat di lembar halaman pertama adalah nama Mama. Aku mematung saat membaca nama tersebut. Buku Mama! batinku.

Kubuka halaman kedua dan di situ hanya tertulis namaku. Kubuka lagi halaman berikutnya dan terpampang tulisan tangan dari tinta biru.

 

From: Mama {Farah Dinan Ayu}

To: Kenneth Aldebaran.

Anak Mama yang paling Mama sayangi. Saat Kenneth udah baca isi buku ini berarti Mama udah gak ada. Hihi ... anak Mama udah besar, jadi jangan nangis lagi saat baca ini ya, Sayang!

Kenneth, di sini Mama cuma mau menyampaikan sebuah pesan atau amanat Mama untuk kamu. Mama tau waktu untuk hidup Mama udah gak lama lagi di dunia karna Mama mengidap penyakit kanker hati stadium akhir. Mama sengaja menyembunyikan semuanya dari Kenneth karna Mama gak mau ngeliat kamu dan Papa sedih. Maafin Mama, Sayang!

Kenneth, kamu tau kan Mama sangat menyayangi kamu dan juga Papa. Mama gak bisa melihat kalian larut dalam kesedihan. Kalian harus tetap melanjutkan jalan hidup kalian, dan Mama mau melihat ada yang mengurus kalian nanti saat Mama sudah gak ada.

Kamu tau Tante Manda? Beliau sahabat baik Mama, dan yang Mama tunjuk untuk menggantikan posisi Mama untuk mengurus Kenneth dan juga Papa. Mama titip kalian ke Tante Manda karna Mama yakin dia bisa menjalankan amanat Mama. Dan Mama harap Kenneth dapat menyayangi Tante Manda seperti Kenneth menyayangi Mama, karna Tante Manda orang yang baik, Sayang, percaya sama Mama. Hati Mama bisa lega bila amanat Mama ini dijalankan.

Mama sayang Kenneth dan juga Papa. Mama harap kalian bisa menjalankan semua ini walau tidak ada Mama di sisi kalian, terutama kamu Kenneth sayang.

I LOVE YOU, MY SON

 

Tik, satu air mata jatuh mengenai lembar halaman terakhir isi buku.

“Hks! Hks!” Aku membawa buku diary Mama ke dalam dekapanku. Aku terisak hebat.

“Haruskah?”

***

 

06:40

TAP

TAP

TAP

CKLEK

“Ken.” Aku merasa namaku dipanggil. Aku menoleh ke belakang dan melihat Papa dengan baju kantornya. Papa belum berangkat? batinku. Aku mengedikkan bahu tidak acuh.

“Iya?”

“Papa yang akan mengantarmu hari ini.” Mengapa tiba-tiba? batinku.

“Iya,” jawabku. Lalu aku melangkah lebih dulu dan masuk ke dalam mobil. Papa menyusul dan kami berangkat bersama.

Di perjalanan tak ada yang bicara. Hanya hening yang menemani perjalanan kami. Saat mobil yang kami naiki telah berhenti di gerbang sekolah, aku segera pamit dan turun dari mobil, lalu langsung menuju ke kelas.

 

13:00 p.m

KRING KRING KRING

Bel tanda jam pulang sudah berbunyi. Aku langsung beranjak pergi menuju bengkel tempatku berkerja. Sebelum …

DRETT DRETT DRETT

Aku melihat nama kontak yang menelponku. Papa? Untuk apa dia menelponku?

“Halo?”

“Malam ini jam tujuh Papa tunggu di Café Luck. Papa  harap kamu datang.”

“Baik.” Aku pun menjawab setelah beberapa saat terdiam.

TUT

Setelah mematikan sambungan telpon, aku langsung melangkah pergi menuju bengkel.

***

 

KEPUTUSAN

 

07:30 p.m

Sesuai permintaan Papa, sekarang aku pergi menemuinya di Café Luck. Aku mencari-cari di mana Papa duduk, sampai tatapanku jatuh ke meja yang ada di pojok dekat jendela. Aku melihat Papa di sana dengan dua perempuan, salah satunya Tante Manda. Aku tak bisa melihat wajah perempuan satu lagi karena dia membelakangiku. Aku mulai menghampiri mereka.

“Maaf, Ken telat,” ujarku saat sudah berada di hadapan mereka.

“Eh, Ken, gapapa kok, Sayang,” jawab Tante Manda.

“Duduk, Ken,” pinta Papa.

SREK

DUK 

“Eh, Ken?” Aku menoleh ke samping dan sedikit terkejut saat melihat perempuan yang sering menggangguku di sekolah ada di sini, di sampingku, sedang memasang wajah sama terkejutnya denganku.

“Ekhem!” Aku berdehem setelah dapat mengendalikan tubuhku.

“Jadi, kalian udah saling kenal?” tanya Papa.

“Iya atau nggak?” Aku memandang sengit perempuan di sampingku. Sebaliknya perempuan itu malah tersenyum manis.

“Jadi, kenal atau nggak?” tanya Papa jengah. Tante Manda hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenal kok, Om, hehe,” jawab perempuan di sampingku.

“Bagus dong, jadi Om gak perlu ngenalin lagi anak Om ke kamu kan, Kara?” ujar Papa.

“Jadi, Ken anak Om?!” pekik perempuan itu.

“Kara!” tegur Tante Manda ke perempuan di sampingku.

Kara? Jadi, namanya Kara! batinku.

            “Hehe, maaf, Ma,” kata Kara.

“Udah gapapa, gimana sekarang kalau kita semua pesan makanan,” kata Papa.

“Iya, lebih baik kita semua makan dulu,” balas Tante Manda.

            Aku hanya diam menyimak. Aku tidak bodoh untuk bisa mengerti maksud acara malam ini.

***

 

“Ekhem!” terdengar suara Papa. Aku menoleh ke Papa. Ahh … sudah dimulai, batinku

“Baiklah, sekarang kita akan membahas maksud atau tujuan dari acara kita malam ini,” jelas Papa mulai memasang wajah serius.

“Pertama-tama, kenalkan Ken ini anak Om. Ken, ini Kara anak Tante Manda.” Papa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan katanya. “Kalian akan jadi saudara tiri nantinya setelah Papa dan Tante Manda menikah.”

Hufhh, aku menghembuskan nafas panjang.

“Ken?” Papa menatap memelas kepadaku.

“Terserah Papa mau gimana.” Yang penting Mama bisa bahagia di sana karena ini permintaan terakhir Mama, batinku.

“Terimakasih, Ken.” Papa tersenyum lembut. Sudah lama aku tak melihat senyum Papa lagi.

“Baiklah,  kita akan membicarakan kapan dan di mana pelaksanaan pernikahannya,” ujar Papa menggebu-gebu. Aku memandang sendu Papa. Dia sangat senang dan antusias saat membicarakannya. Apa Papa sebahagia itu? Aku bertanya-tanya: apa Papa sudah bisa melupakan alm. Mama?

***

 

PERNIKAHAN PAPA

 

Hari yang  ditunggu-tunggu pun tiba. Ramainya orang yang diundang memenuhi gedung resepsi pernikahan Papa dan Tante Manda. Aku bisa melihat senyum Papa yang mengembang di atas sana. Ada rasa bahagia juga saat melihat senyum lebar Papa di sana, tapi juga ada rasa tak rela melihat Papa bersanding dengan wanita selain Mama.

Ma! Apa Mama senang dan lega sekarang? Papa udah nikah sama Tante Manda yang sekarang aku panggil ‘Bunda. Papa keliatan bahagia banget di sana. Aku juga ikut bahagia ngeliatnya. Mama juga kan? Sekarang Mama bisa tenang di sana. Jangan khawatirin Kenneth sama Papa lagi. Karna sekarang udah ada Bunda yang ngurusin kita.

“I love you, Mom.”

Puk!

Lamunanku buyar saat ada yang menepuk bahuku. Aku menoleh melihat pelakunya yang tak lain adalah Kara, saudaraku.

“Ken?” panggilnya yang kali ini kutanggapi dengan senyuman.

“Huawhh!!” pekik Kara heboh sambil menutup mulutnya menggunakan tangan dan melompat-lompat kecil. Aku memasang wajah bingung dan heran.

“KEN! KAMU SENYUM. AAAA!!!” Aku membekap mulutnya yang berteriak.

“Kamu kenapa sih?” tanyaku heran setelah melepas bekapanku dari mulutnya.

“Hehe. Kan aku kaget pas ngeliat kamu senyum manis banget tadi. Baru kali ini tau ngeliat kamu senyum, apalagi sama aku. Hehe ….” Aku terkekeh kecil. Apa sebegitunya? pikirku.

“Ken! Ke sana yuk!”

“Ma! Pa!”

“Sini, Sayang, kita ambil foto keluarga!”

“Semuanya bilang cheese ….

CKLEK!

 

END

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MEMBACA SENYAP MTsN SABANG

Membaca senyap MTsN Sabang edisi Selasa, 8 November 2022. Membaca senyap merupakan salah satu program Literasi MTsN Sabang dari sekian banyak program literasi lainnya. Membaca Senyap d

08/11/2022 08:59 - Oleh administrator - Dilihat 1027 kali
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag

Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya   Oleh Sri Nilawati, S.Ag               Tangga mer

26/10/2022 10:50 - Oleh administrator - Dilihat 479 kali
Apel

Apel                 Siang ini terasa terik sekali matahari membakar wajah ku yang sudah semakin legam terbak

08/09/2022 18:23 - Oleh administrator - Dilihat 559 kali
Duka

Duka hadirnya tak terduga sering tak didamba menghadapi Duka dengan sabar adalah Pahala bagi mereka yang percaya   Kadang duka menghampiri saat hari begitu indah hingga air

08/09/2022 18:19 - Oleh administrator - Dilihat 505 kali
Ayah

Ayah Aku tak pernah ingat hangat belaian tangan kekar mu namun aku percara Engkau selalu membelaiku Karena aku dapat merasakannya Hari ini usia ku bertambah “bukan bertamba

08/09/2022 18:18 - Oleh administrator - Dilihat 477 kali
Yang Terabaikan

Yang Terabaikan Mengapa engkau melakukan apakah hanya karena mengejar penghargaan segera hentikan jika itu yang menjadi alasan   Seberapa penting alasan itu jangan pernah en

08/09/2022 18:16 - Oleh administrator - Dilihat 513 kali
Tulang Rusuk

Tulang Rusuk wahai engkau sang tulang rusuk berakhir sudah kini di hari Sabtu 29 Agustus 2020 Engkau tak pantas lagi menjadi tulang rusuk Menangis darah pun engkau Mulai hari ini

08/09/2022 18:14 - Oleh administrator - Dilihat 576 kali
Sujud

Sujud ada rasa nyaman yang menyelimuti saat kening menyentuh bumi memuja Mu Ya Ilahi Rabbi   ada hampa yang menghampiri jika terlambat aku mengadu melepas resah yang meliput

08/09/2022 18:12 - Oleh administrator - Dilihat 416 kali
Sahabat

Sahabat kalian selalu ada bersama ku tersenyum dan menangis bersama kadang marah kadang canda sering kita galau bersama Sahabat Seakan tak berbatas rasa Saat kita saling berbagi

08/09/2022 18:11 - Oleh administrator - Dilihat 390 kali